Asal – Usul Kerajaan Limutu

Menurut hikayat orang-orang tua bahwa wilayah Limutu diduduki oleh lima suku bangsa yang masing-masing mempunyai olongia atau raja. Bangsa-bangsa itu adalah

  1. Lumohedaa dengan Raja Mainua,
  2. Dunggala dengan Raja Jilobua,
  3. Tomilito dengan Raja Hemuto,
  4. Hungayo dengan Raja Wonggodu, dan
  5. Dunito dengan Raja Talango.

Suatu saat turunlah tujuh orang gadis kayangan (mongodulahe I00 ‘abu) dari suatu tempat yang bernama Tupalo untuk mandi. Ketika hendak mandi, mereka meninggalkan sayapnya dan turun ke air. Di dekat mereka mandi terdapat sebuah batu besar yang bernama Batu Polilimamuto.

Ketika itu seorang jejaka sedang berjalan-jalan. Nama jejaka itu Yilumoto. Ketika itu, ia melihat ketujuh putri yang sedang mandi.
Diambilnya sepasang sayap dan disembunyikannya lalu ia sendiri pun bersembunyi. Sudah puas mandi, ketujuh putri itu sudah bersiap-siap untuk terbang. Malangnya, salah satu di antara mereka tidak menamukan sayapnya. la kebingungan mencari sayapnya itu. Saat itulah Yilumoto muncul. Yilumoto membawa gadis itu dan memberi nama Yilumoyo.

Yilumoto berniat untuk meninggalkan Tupalo. Mereka mengembara. Dalam pengembaraan itu, mereka tiba di suatu daerah yang bernama Huntulotiopo (bukit kapas). Suatu hari datanglah dua orang laki-laki dan mengabarkan bahwa mereka diutus oleh Unuki untuk mencari seorang gadis yang hilang. Kedua laki-laki itu bernama Matoloduduto dan Matololelenga (aninya mata mengantuk dan mata tertidur). Gadis yang mereka cari bernama Bui Bungale. Mendengar nama itu tahulah Yilumoto bahwa istrinya itu bernama Bui Bungale.

Mereka berempat pergi berburu. Mereka tiba di suatu tempat yang berair, letaknya di kaki sebuah gunung di Kampung Tabongo di daerah Batudaa sekarang. Ketika mereka sedang berburu bertiuplah angin kencang disertai badai dan halilintar yang sambar-menyambar. Banyak pohon yang tumbang pada peristiwa itu.

Saat angin reda, alam telah teduh dan aman, terlihatlah oleh mereka bahwa tempat air yang kecil tadi menjadi sebuah danau yang besar. Di atas air tampak sebuah benda putih yang terapung-apung.Benda itu adalah sebuah Bumeiula. Bui Bungale menyuruh kedua pengawalnya untuk menjaga Bumelula itu. Dan, ia mencari Yilomuto yang hilang pada saat badai, tetapi kedua pengawal itu tertidur.

Di negeri yang lain, ada dua raja yang pergi berburu. Dua raja itu adalah Baginda Dunito dan Baginda Wonggoda. Mereka ditemani oleh seorang kimalaha yang bernama Tampudu dari Bulita. Kedua raja tersebut tiba di tempat itu dan melihat Bumelula yang sedang terapung-apung di atas air. Beberapa saat kemudian, mereka bertemu dengan tiga laki-laki, yaitu Yilumoto dan dua orang pengawal dan seorang gadis yang sangat elok. Gadis itu tak lain adalah Putri Bui Bungalc, istri Yilumoto.

Mereka lalu memperebutkan Bumelula. Masing-masing mengatakan bahwa mereka yang pertama menemukan benda itu.‘ Alas persetujuan bersama, mereka mengakui bahwa benda itu adalah milik mereka bersama dan semuanya berhak atas Bumelula itu. Oleh putri Bui Bungaie dibawanya benda itu ke Huntuiotiopo. Terjadilah sesuatu yang ajaib. Dari dalam Bumelula keluarlah seorang gadis yang sangat cantik parasnya.

Gadis itu diberi nama Tolangohula oleh Bui Bungale. Tolangohula ini yang kemudian menjadi Maharaja Kerajaan Limutu_Kerajaan Limutu berdekatan dengan Kerajaan Hulontalo. Di Kerajaan Hulontalo, rakyat sangat mempengaruhi jalannya pemerintahan. Lain halnya di Kerajaan Limutu, pemerintahan digenggam oleh lima orang pembantu raja. Salah seorang di antara mereka adaiah Hemuto dari bangsa Timilito yang paling besar pengaruhnya. Bangsa-bangsa yang menduduki daerah Limutu pada waktu itu seperti yang telah dijelaskan di atas, yaitu

l. Bangsa Lumehedaa yang mendiami bukit-bukit di Pone sekarang.
2.Bangsa Dunggala yang mendiami daerah Panipi.
3.Bangsa Hungayo yang mendiami Pegunungan Balahu.
4.Bangsa Timilito yang mendiami bukit-bukit dan di Sungai Monggelomo, lsimu sekarang.
5. Bangsa Dunito.

Pada mulanya Baginda Mainua Raja Lumehedaa membuat langkah-langkah untuk mempersatukan suku-suku bangsa menjadi satu kerajaan besar, yakni dari Lumehedaa, Dunggala, dan Hungayo. Cita-cita ini mendapat halangan yang sangat besar sehingga lama sekali baru tercapai Selanjutnya, ketiga bangsa ini menggandeng bangsa Timilito dan Dunito untuk mewujudkan cita-cita tersebut.

Pada waktu yang telah ditentukan, keempat raja itu telah memenuhi undangan pertemuan. Tapi, Raja Hemuto tidak hadir dan mereka mengirim kembali utusan kepada Raja Hemuto dan Raja Hemuto memenuhi undangan itu dengan persenjataan yang lengkap.

Pada pertemuan itu, mereka akan menentukan siapa yang akan menjadi Raja Limutu. Agar tidak terjadi kesalahpahaman, Baginda Mainua mencari jalan untuk kesepakatan. Diambillah sebuah batu besar yang merupakan batu kepercayaan bangsa Limutu pada waktu itu.

Batu besar itu dijadikan pertanda (monumen) persatuan. Oleh empat raja lainnya, Baginda Mainua diberi gelar Patila artinya ‘tukang ukir patung’. Karena beliau cerdas dan bijaksana mengendalikan persatuan keempat raja tersebut, gelarnya ditambah dengan Tau Huhulango (orang tertua). Kata Taa Huhulango berubah terus’ menjadi huhulango, terus menjadi huhuhu dan terakhir dalam bahasa Ternate menjadi Jogugu (Jo artinya Tuan, gugu artinya pegang) dan sekarang menjadi Gugu.

Kelima raja bermusyawarah lagi untuk membangun sebuah gedung pertahanan. Kelima raja membagi pekerjaan. Raja Mainua membuat dinding gedung itu dengan tumudu hulapa 10 bulaiyo (patokan buluh cui dari sungai). Berdasarkan kemufakatan, mereka mengangkat Raja Mainua untuk menjadi Raja Limutu. Selanjutnya, Bui Bungale bergabung dengan persekutuan itu. Beliau mendapat gelar Pulanga meyalo bare-bate. Dari zamannya, Bui Bungale inilah pangkat-pangkat sudah mulai diperhatikan dan diberikan kepada orang yang berjasa pada bidang tersebut.

sumber: Cerita Rakyat Gorontalo, Ester Yunginger, PUSAT BAHASA DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL, 2007

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *