ASAL-USUL ORANG-ORANG BOALEMO

Pada zaman dahulu terdapatlah sebuah Kerajaan Lubu (Luwu) di- sebuah tempat yang bernama Tambelo. Rajanya sangat disayangi dan dihormati oleh rakyatnya karena selalu memperjuangkan nasib rakyat. Beliau mempunyai seorang putra yang bernama (Luntadarage) Sarinande dan seorang putri yang bernama Rawe. Kedua anak itu
tidak dipertemukan dari masa lahirnya sampai mereka tumbuh remaja. Oleh karena itu, mereka tidak saling kenal.

Suatu saat Raja Lubu mendapat perselisihan dengan raja-raja yang ada di sekitamya. Perselisihan itu tidak mengenakkan Baginda sehingga beliau meninggalkan kerajaan dan beberapa pengikut serta permaisurinya.

Mereka tidak tahu arah dan tujuan mereka berlayar. Beberapa saat sedang berlayar, datanglah angin topan dan membawa perahu mereka ke tengah laut. Badai itu memporak-porandakan dan mengacaukan mereka sehingga terpisah satu dengan yang lainnya. Sebagian dari mereka ada yang terdampar di Saluwa dan sebagian lagi di Pulau Mandaunu. Baginda, Permaisuri, anaknya, dan beberapa pengikutnya terdampar di satu pulau. Pulau itu kini bernama Boalemo.

Di pulau itu bertemulah kedua anak Raja Labu yang dipisahkan itu. Karena kebiasaan Raja tidak mempertemukan anak-anaknya dari kecil, tak disengaja Putra Sarinande telah mencintai Putri Rawe. Putra Sarinande memohon unluk dikawinkan dengan Putri Rawe, Permohonan itu tentu saja ditolak oleh Raja dan Permaisuri.

“Jika Rawe benar-benar adalah saudaraku sekandung, apa sebabnya aku tak melihatnya setiap hari?” tanya Putra Sarinande. Melihat kesungguhan Putra Sarinande untuk memperistri Putri Rawe, bermufakatlah Raja dan pengikut-pengikutnya untuk manghanyutkan Putri Rawe dengan sebuah rakit agar Putra Sarinande tidak melihatnya lagi dan negeri terhindar dari malapetaka.

Putri Rawe dihanyutkan ke tengah laut. Beberapa lama kemudian, terdamparlah rakit itu di sebuah tempat yang bernama Bayalomilate yang terletak di Kerajaan Hulontalangi. Di sana Putri Rawe dikawinkan dengan Raja Padengo. Orang-orang Lubu tak mengetahui lagi cerita tentang Putri Rawe karena mereka telah merantau ke negeri lain,

Pada suatu hari, terjadilah peperangan antara Negeri Banggai dengan Negeri Limutu. Perselisihan itu tak dapat diselesaikan dan menimbulkan peperangan. Baginda Humonggilu mengutus seorang bangsawan yang bernama Qomolo untuk mengendalikan Kerajaan Limutu dan menghentikan peperangan. Qomolo berangkat menuju Banggai dengan sebuah perahu. Tiba di Bambua, bertemulah dia dengan beberapa orang Banggai dan beberapa orang Tambelo yang telah terpisah dari rombongan mereka. Orang-orang Banggai menyapa Qomolo.

“Hendak ke manakah kamu, Qomolo?”
“Aku hendak ke Banggai untuk menghentikan peperangan di sana. Aku harus mencegah orang-orang Banggai untuk merampas Kerajaan Limutu,” jawab Qomolo.
“Lebih baik kamu beristirahat dulu di sini satu dua hari untuk melepaskan lelah. Dan kami akan menyertai kamu ke sana,” jawab mereka.

Qomolo menyetujui ajakan tersebut. Dengan adanya Qomolo, perselisihan dapat dihentikan. Dan, terjalin persaudaraan dan perdamaian antara orang Banggai dan orang-orang Limutu. Tetapi semua itu hanyalah siasat dari orang-orang Banggai. Pada malam hari orang-orang Limutu diserang oleh orang-orang Banggai. Mereka menceritakan apa yang mereka alami kepada Baginda Humonggilu.

Mendengar berita itu Raja menjadi murka. Beliau memerintahkan agar menyediakan angkatan laut dan lima buah perahu yang kukuh. Mereka berlayar menuju Banggai. Beberapa saat kemudian, mereka tiba di sebuah pulau yang bernama Bambua. Mereka mampir ke pulau itu. Mereka mendapat firasat bahwa sebelumnya pulau itu
telah dihuni orang. Keesokan harinya, mereka bertemu dengan orang-orang Tambelo di pulau itu. Orang-orang tersebut mereka tawan dan dibawa ke Kerajaan Limutu. Di Limutu orang-orang itu mereka jadikan budak dan disebut orang ‘Bolo Limu’ atau ‘Boalemo’. Di Limutu, kawinlah orang-orang itu dengan orang Limutu sampai
banyak anak cucu orang Boalemo di sana.

Suatu hari, terjadilah peperangan antara Limutu dan Hulontalo. Kejaraan Limutu mendapat bantuan dari Kerajaan Ternate, sedangkan Kerajaan Hulontalo mendapat bantuan dari Negeri Gowa. Kerajaan Limutu mengalami kekalahan. Tiga orang anak Raja Limutu, yaitu Putri Ntobango. Putri Tili’aya dan Putra Pomontolo ditawan oleh
kirai-kirai (kepala pasukan Gowa). Tiga orang bangsawan Gowa yaitu, Mopolulangolo, Mopotuhulita, dan Mopatutaniyo membawa anak-anak raja tersebut dengan perahu bersama orang~0rang Boalemo.

Mereka berangkat dari Kwandang hendak ke Gowa. Suatu hari mereka mampir di Buwol. Karena mendapat sedikit kelonggaran, sebagian orang-orang Boalemo melarikan diri. Sebagian yang lain tetap ikut mengiringi anak-anak Raja Gowa.Beberapa tahun kemudian, kembalilah orang-orang Boalemo
yang ditawan tadi ke Limutu. Namun, orang-orang Boalemo yang melarikan diri tidak kembali ke Limutu. Raja Limutu mengutus orang untuk mencari orang-orang yang lari itu, tetapi tak menemukan. Ternyata orang-orang tersebut disembunyikan oleh Pemerintah Buwol.

Maka pecahlah perang antara Buwol dengan Limutu. Dengan bantuan Gulontalo, mereka mendakwa perbuatan Raja Buwol. Gubernur Filz menjawab dakwaan itu dengan surat beliau tertanggal 26 September (tidak diketahui tahunnya), tetapi tidak mencapai putusan apa-apa.

Kemudian, datanglah seorang ulusan yang bernama Bernard ke Limutu. Raja Limutu mengadu sekali lagi kepada utusan itu, tetapi utusan itu mengatakan bahwa Kompeni mau membayar orang-orang Boalemo itu dari Kerajaan Limutu dengan harga sepuluh real untuk seorang budak. Budak-budak itu akan dipakai oleh Kompeni di Buwol. Pembelian itu membuktikan bahwa Limutu tidak berhak lagi kepada orang Boalemo. Kompeni mengangkat seorang Regen bernama Marapati untuk mengepalai orang-orang Boalemo di Buwol.

Pada masa Baginda Hutopango bermusyawarahlah, kepala-kepala pemerintahan, yaitu Raja Huhupo Uleya lo Lipu, Wa a’opulu, dan pembesar-pembesar lainnya. Mereka membicarakan masalah pajak kepada Kompeni dan orang-orang Boalemo. Ditetapkan bahwa setiap pegawai negeri harus mengambil lima orang Boalemo untuk menjadi budak.

Orang Boalemo yang tersisa dikumpulkan pada suatu tempat tidak jauh dari lbukota Limutu dan bertugas untuk memukul beduk mesjid. Mereka diperintah oleh empat orang raja kecil, yaitu Biluhu, Pilohangsa, Ayuhulalo, dan Limboto. Mereka harus membuat perjanjian dan bersumpah untuk menanggung segala beban kepada Kompeni.

Pada masa Tuan De Munnick, pembesar-pembesar Negeri Limutu belajar ke Ternate sebagai ilmu untuk menobatkan lskandar Naki menjadi Raja Limutu. Pada pertemuan itu, Tuan Dc Munnick mengatakan pada pembesar-pembesar Limutu agar memerdekakan orang-orang Boalemo karena orang-orang Boalemo telah banyak mengeluh, tetapi pembesar-pembesar Limutu tak mau menuruti perintah Tuan De Munnick. Beliau menjadi marah dan berkata,

“Bila kamu tidak memerdekakan orang-orang Boalemo, aku tidak akan menobatkan Putra Naki menjadi Raja.”
“Biarlah Naki lidak menjadi Raja, tetapi kami tak mau membebaskan orang-orang Boalemo karena Kerajaan Limutu terlalu sedikit rakyatnya,” jawab pembesar Limutu.

Dengan terpaksa Tuan De Munnick menobatkan Putra Naki menjadi Raja Limutu. Sekali peristiwa terjadi peperangan Negeri Buwol dengan Kaili. Orang Boalemo di Buwol yang dikepalai oleh Marapati lari ke Kwandang. Mcndengar peristiwa itu Raja Limutu mengumumkan kepada Marapati agar tidak mencampurkan orang-orang Boalemo yang berasal dari Buwol dan yang ada di Limutu.

Tuan Wermut dan Van de Wal dan raja-raja Limutu, Hulontalo, Buwol, Kaidipan, Bolaangitang, dan Marapati datang ke Kwandang untuk memutuskan batas-batas Negeri Limutu.

Pada masa pemerintahan A.R Van Celosse, orang-orang Boalemo dibebaskan dari pengawasan dan penganiayaan pembesar dan kaum ningrat Limutu. Orang-orang Boalemo meninggalkan Limutu dan tinggal di Kayubulan dan akhirnya menetap di Tilamuta. Di Tilamuta mereka membentuk raja sendiri-sendiri, yaitu
I) Palowa,
2) Poileat,
3) Arsadi,
4) Mohe,
5) Mayuru,
6) Mustapa, dan
7) Idrusi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *